Iran Rancang 13 Skenario Balas Dendam yang Menakutkan buat AS

Iran menyusun serangan balik, yang menjadi mimpi buruk bersejarah bagi AS.

Radamuhu.com – Iran dikabarkan tengah merancang serangan balik ke Amerika Serikat (AS).  yang juga petinggi Garda Revolusi Iran, Qasem Soleimani karena rudal AS.

Sebagaimana dikutip Bloomberg dari Fars News Agency, Kepala Komite Pengamanan Nasional Iran Ali Shamkhani menegaskan hal ini, dilansir cnbc, Selasa (7/1/2020). Bahkan, ia mengatakan hal ini bisa menjadi “mimpi buruk bersejarah” bagi AS.

“Bahkan jika skenario terlemah kita disetujui, penerapannya bisa menjadi mimpi buruk bersejarah bagi Amerika,” katanya. “Keseluruhan pasukan perlawanan akan membalas.”

Meski demikian, ia enggan memaparkan apa bentuk pembalasan tersebut. “Untuk saat ini, karena alasan intelijen, kami tidak dapat memberikan lebih banyak informasi kepada media,” jelasnya lagi.

Tensi ketegangan antara AS dan Iran makin tinggi dalam beberapa hari terakhir. Adu ancaman terus dilontarkan, baik dari sisi AS maupun dari sisi Iran.

Tak terkecuali saat prosesi pemakaman Soleimani Senin lalu. Meski bukan resmi pernyataan negara, dalam pidato pemakamannya, dibacakan seruan yang menawarkan hadiah bagi siapapun yang bisa mendapatkan kepala Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

“Dan kami akan memberikan US$ 80 juta … sebagai hadiah pada siapapun yang bisa membawa kepala dari seseorang yang telah memerintahkan membunuh tokoh revolusi kita,” ujar orang tersebut sebagaimana ditulis media Inggris, Express, Senin (6/1/2020).

“Siapapun yang bisa membawa kepala orang gila berambut kuning, akan kami berikan US$ 80 juta atas nama negara besar Iran. Bersoraklah jika setuju.”

Tokoh parlemen Abolfazi Abutorabi juga dikabarkan mengancam akan menyerang Gedung Putih sebagai tanggapan atas pembunuhan Soleimani.

“Kita bisa menyerang Gedung Putih, kita bisa merespon mereka dengan (langsung) ke tanah Amerika. Kita punya kekuatan itu,” tegasnya.

Sementara itu, Trump berjanji akan menyerang 52 wilayah di AS. Ia berujar serangan dilakukan karena Iran membahayakan warga dan kepentingan AS.

KOMENTAR