Stop Jadi Budak Terorisme, Belajar dari WNI Eks ISIS

WNI eks ISIS yang ingin pulang ke Indonesia adalah bukti bahwa mereka menderita dan tak berdaya.

Warga Negara Indonesia (WNI) yang bersikap meninggalkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk bergabung dengan ISIS adalah sebuah pilihan yang harus dihormati. Mungkin ini yang dinamakan pencarian jati diri.

Mereka rela meninggalkan kehidupan social yang sebenarnya ‘nyaman’ di Indonesia, dengan memilih hidup di Timur-Tengah yang penuh konflik sosial, demi nikmat firdaus yang belum tentu benar.

Karena, mengangkat senjata dengan membunuh warga masyarakat yang menolak bergabung dengan kelompok mereka adalah sebuah kejahatan atas nama kemanusiaan. Namun, bukannya bertahan dalam kesulitan di Timur Tengah, malah mereka mendapatkan tekanan yang membuat mereka sadar ingin kembali ke pangkuan pertiwi.

Pemerintah Menolak WNI eks ISIS Kembali

Pemerintah dengan tegas menolak pemulangan mereka. Memang awalnya wacana pemulangan mereka ke Indonesia menuai pro dan kontra. Menteri Agama Fachrul Razi sempat melontarkan pernyataan bahwa ada keinginan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memulangkan 660 WNI eks ISIS ke Indonesia.

Isu ini pun telah lebih awal diberi tanggapan oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo (Jokowi), yang mengatakan ‘Tidak’ ingin mereka kembali.

Dari pro-kontra di atas memang menyulitkan mereka kembali. Dan muncul pernyataan resmi Istana beberapa waktu lalu yang disampaikan oleh Menkopolhukan Mahfud MD bahwa Istana secara tegas menolak kepulangan WNI eks ISIS.

Penolakan ini tentu didasari oleh pengalaman ketika menerima kembali para WNI eks Afganistan.

Dikutip dari Detiknews, pernah beberapa WNI yang bergabung dengan kaum Mujahidin Afghanistan dan akhirnya pulang ke Indonesia. Alih-alih menjadi warga negara RI yang kembali patuh pada konstitusi, mereka justru berulah lewat sejumlah aksi teror bom. Adalah Mukhlas yang merupakan terpidana mati Bom Bali 2002. Mukhlas adalah kakak kandung Amrozi dan Ali Imron, pelaku bom bali lainnya. Amrozi juga terpidana mati, sedangkan Ali Imron divonis penjara seumur hidup.

Kejadian ini tidak pupus oleh waktu, malahan menjadi traumatik bagi keluarga korban yang tewas saat terjadinya bom tersebut.

Belajar Dari Pengalaman

Untuk itu, harapannya masyarakat yang masih jadi WNI, kalau bisa diusahakan agar tidak terpengaruh oleh doktrin-doktrin yang penuh dengan hayalan-hayalan semu.

Belajarlah dari 660 orang WNI Eks ISIS yang ingin pulang ke Indonesia, namun ditolak oleh pemerintah. Keinginan mereka pulang ke Indonesia, itu karena mereka tidak mendapatkan nikmat apapun, malahan menjadi budak dari kaum ekstrimis kiri yang menggunakan jasa mereka.

Mari kita lawan berbagai bentuk aksi teror dari kelompok-kelompok yang pemecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Karena dengan bersatu bangsa ini akan terbebas dari kelompok radikalisme yang sengaja mengadu domba sesama anak bangsa.

* Penulis: Adam Nusantara
KOMENTAR
256 Shares
Tweet
Share256
Share
Pin